Home » » Apa Alasan Nabi Muhammad Saw Menikahi Isteri Isterinya.?

Apa Alasan Nabi Muhammad Saw Menikahi Isteri Isterinya.?

Written By Khalifah Muslim on Minggu, 06 Januari 2013 | 15.29

Ilustrasi
Musuh-musuh Islam mencoba untuk menghina dan memojokkan nabi Muhammad SAW dengan cara mencari titik cela yang mereka anggap dapat dimanfaatkan untuk mencelanya. Salah satu titik yang dianggap para musuh nabi untuk memojokkannya adalah fakta tentang perkawinan nabi dengan sembilan wanita yang telah dinikahinya. Tentu saja karena bermaksud memojokkan, maka konteks pernikahan nabi dengan sembilan wanita itu dipandang dari sudut manusia biasa yaitu tentang besarnya libido dan pertimbangan-pertimbangan manusia. Dengan dalih itulah maka para musuh nabi mencela perilaku nabi sebagai kelewatan, apalagi ada yang dinikahinya dalam keadaan masih di bawah umur.

Memandang pernikahan nabi Muhammad SAW dengan sembilan istri dengan alasan libido adalah jelas keliru besar. Dalam banyak fakta bisa dilihat bahwa pernikahan beliau dilaksanakan dengan sebab sebab politik juga pertimbangan kemanusiaan yang berhubungan dengan Islam. Jadi tidak ada alasan menikahi perempuan untuk tujuan-tujuan pribadi seperti masalah libido dan syahwat. Dengan demikian ketika isu ini disebarkan dengan tujuan mencela nabi Muhammad SAW, pada akhirnya padam tanpa sempat berkobar. Semua pandangan akan melihat dengan jelas dengan alasan apa nabi menikahi perempuan-perempuan itu.

Para Isteri Nabi Muhammad SAW

Di dalam sejarah nabi Muhammad SAW, pertama kali melakukan pernikahan dengan Khadijah ra pada saat umur beliau 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun. Semasa hidup Khadijah, beliau tidak menikahi isteri yang lain hingga Khadijah meninggal dunia saat berumur 65 tahun  dan saat itu nabi berumur diatas 50 tahun. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Kalau nabi Muhammad menikah dengan alasan manusiawi seperti syahwat misalnya, maka ketika beliau berumur 25 tahun tentu bisa menikahi perempuan yang sepadang secara usia. Tapi kenapa justru menikahi Khadijah yang saat dinikahi telah berumur 40 tahun dan seorang janda pula ? Selain petunjuk dari Allah SWT tentu saja ada alasan-alasan lain yang sangat strategis sehubungan dengan tugas beliau yang sedang mengembangkan Islam. Secara ekonomi dan status sosial di masyarakat Arab pada saat itu, Khadijah menduduki posisi yang utama, yakni seorang janda kaya raya dan berasal dari keturunan yang mulia pula. Dengan demikian ketika nabi Muhammad SAW bersanding dengannya, kegiatan dakwah mendapat dukungan tidak saja material tapi juga moril.

Nabi Muhammad SAW tetap setia tanpa menduakan Khadijah hingga ia meninggal. Tetapi karena tugas kenabian dan beratnya perjuangan juga pengorbanan terhadap Islam dan perintah Allah serta kasih sayangnya kepada manusia memaksanya untuk menikahi lebih dari satu orang isteri bahkan sampai 9 orang.
Perkawinan beliau dengan Siti Aisyah yang saat itu masih belia, juga bukan alasan manusiawi semata tetap merupakan bagian dari usaha untuk menjalin ikatan dengan Abu bakar, ayahnya Aisyah, dan perkawinannya dengan Hafsah untuk menjalin ikatan dengan Umar bin Khattab. Alasan ini dikuatkan dengan fakta sejarah yang menyebutkan bahwa Hafsah bukanlah perempuan yang jelita.

Kemudian pernikahannya dengan Ummu Salamah adalah untuk meringankan beban hidup yang dijalani Ummu Salamah sendiri karena telah ditinggal suaminya yang syahid di jalan Allah SWT pada peperangan. Lalu Sawadah yang dinikahi oleh Nabi Muhammad karena memiliki sifat yang mulia dan hidup dalam kesendirian dalam keislamannya.

Sementara pernikahannya dengan Zainab bin Jahasy merupakan ujian berat karena pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk memberikan pelajaran bahwa menikahi isteri anak angkat itu diperbolehkan. Zainab merupakan janda dari Zaid bin Harisah yang merupakan anak angkat Nabi Muhammad. Hal ini berkaitan dengan tradisi yang terkenal di kalangan jahiliyah tentang tradisi adopsi. Sedangkan dalam Islam tidak ada sistim adopsi. Nabi telah membayangkan tentang sesuatu yang akan dikatakan orang mengenai dirinya karena telah menikahi isteri anaknya, tetapi sesuatu yang dikhawatirkan nabi justru yang ingin dihapus oleh Allah SWT.

Rasulullah mampu bersabar dan menahan diri saat mendengar hinaan yang dikatakan kepadanya. Dan ini bukan hal pertama atau terakhir kalinya beliau melakukan pengorbanan, pernikahan beliau adalah usaha untuk menyebarkan kebaikan serta penghormatan terhadap kemuliaan.

Ummu Habibah binti Abu Sofyan bin Harb, pemimpin Quraisy dalam memerangi Islam, berhijrah bersama suaminya ke Habasyah. Ia memiliki sikap mulia demi menegakkan ajaran Islam dan berani menentang ayahnya yang kafir. Ketika suaminya meninggal maka nabi Muhammad menikahinya agar ia terhindar dari keterasingan juga kecemasan dalam membela agama Allah.

Shafiyah binti Huyay adalah anak seorang Yahudi dan merupakan tawanan perang Khaibar. Nabi memberikan pilihan kepadanya antara memilih masuk Islam dan menjadi isteri beliau atau tetap beragama Yahudi dan dibebaskan. Shafiyah memilih untuk menjadi isteri Rasullulah.
Sedangkan Juwairiyah binti Harits adalah anak seorang kabilah Bani Musthaliq. Dengan demikian ketika pernikahan Nabi dengan Juwairiyah ini dilangsungkan, maka keluarga Bani Musthaliq masuk Islam tanpa keterpaksaan dan sukarela.

Rumah Tangga Nabi Muhammad

Jika orang membayangkan bahwa Rasulullah memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan para istrinya, maka pandangan ini jelas keliru. Karena waktu beliau banyak digunakan untuk berjihad, beliau lebih banyak merasakan penderitaan dan banyak melakukan pengorbanan. Apakah mereka pikir memiliki isteri banyak itu merupakan kesenangan ? Dalam salah satu keterangan dijelaskan bahwa laki-laki muslim diperbolehkan menikat dengan satu, dua, tiga dan empat istri. Namun ini hanya sebuah tawaran karena di akhir keterangan tersebut disebutkan bahwa namun bila tidak sanggup, maka cukup satu saja. Artinya apa ? Ini sebuah kenyataan yang tidak bisa dianggap sepele bahwa memiliki satu istri saja sering kali muncul masalah-masalah yang tidak terduga akibat bersatunya dua karakter, dua watak dan dua orang dari keluarga dan lingkungan yang berbeda. Dengan demikian bila memang tidak mampu, lebih baik bertahan dengan satu istri saja.

Rasulullah SAW hidup dalam rumah tangganya dengan ekonomi yang serba kekurangan bahkan bisa dikatakan orang termiskin dari kalangan muslim yang hidup di zamannya.  Beliau menjalani kehidupan dengan kezuhudan yang luar biasa. Dari fakta ini didapat kesimpulan bahwa menikah dengan lebih dari satu perempuan yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW samasekali bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk melampiaskan syahwat, melainkan ada tujuan-tujuan strategis yang tidak lain adalah kepentingan dan kemajuan Islam yang menjadi nomor satu. Agama Islam yang selalu menjadi pertimbangan utama bagi nabi dan bukan yang lainnya.

Bahwa nabi Muhammad SAW hidup dengan ekonomi yang serba kekurangan, ini fakta yang tidak bisa disangkal lagi. Sejarah telah membuktikan bahwa sepeninggal nabi, tidak ada istana yang megah, tidak memilih harta peninggalan yang berlimpah selain sebuah gubuk. Dengan demikian ketika beliau menikah dengan lebih dari satu perempuan, sekali lagi bukan karena alasan manusia melainkan ada pertimbangan lain yang jauh lebih utama. Tentu saja hal ini tidka bisa terbantahkan, karena perempuan mana yang mau dinikahi oleh seorang laki-laki yang hidup kekurangan, kecuali juga ada pertimbangan-pertimbangan yang utama dari sekedar kesenangan duniawi yaitu membela agama Allah SWT yang jaminannya kehidupan akhirat yang mulia.

Oleh : http://www.anneahira.com/
Share this article :
digitalhuda.com


 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Islam Respon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger